Our Team

Our Team
Tampilkan postingan dengan label Breastfeeding. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Breastfeeding. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 September 2015

Persiapan Menjadi Ibu Menyusui : Diawali dari Tekad, Usaha Menggali Informasi dan Mengikuti Kelas Edukasi Laktasi



Saya memang belum pernah merasakan pengalaman menyusui karena ini kehamilan saya yang pertama tetapi sama seperti calon ibu pada umumnya saya ingin memberikan yang terbaik untuk anak saya nanti dengan memberikan ASI eksklusif. Ya, itu sudah menjadi tekad saya bahkan sebelum saya hamil. Dari apa yang saya ketahui, ternyata menyusui juga dipengaruhi oleh pikiran dari ibu sendiri, oleh karena itu saya berusaha mengatur pikiran positif supaya saya bisa menyusui (Aamiin). Saya sendiri memperoleh ASI eksklusif 2 tahun dari ibu saya, memang kalau dengar cerita beliau, rasanya saya merasa bersalah sekali jika menyakiti belau karena dari menyusui saja beliau sudah merasakan sakit yang luar biasa, dari puting lecet, berdarah-darah, bahkan kata beliau hampir putus dan itu dialaminya selama 2 tahun untuk saya!! Terlebih lagi beliau juga mengasuh dan membesarkan saya dan kakak adik saya serta melakukan kegiatan lainnya. Tetapi hal itu tidak membuat beliau berhenti dan menyerah untuk menyusui saya, bahkan ibu saya sampai mengorbankan KARIRnya!! Ya, beliau akhirnya memutuskan berhenti bekerja demi menyusui saya yang tidak bisa minum susu formula ini dan hanya bergantung dengan ASI. Dari pengalaman beliau tersebut, membulatkan tekad saya untuk menyusui karena rasanya tidak adil jika saya tidak berusaha untuk menyusui anak saya sementara saya sendiri sudah membuat ibu saya berkorban begitu banyak demi saya. Well, setidaknya saya bertekad dan berkomitmen dulu. 

Jadi, untuk mewujudkan tekad dan komitmen saya menyusui, diawali dengan mencari informasi seputar menyusui, baik dari mendengar pengalaman dari teman saya, baca buku dan majalah, googling, mengikuti kelas laktasi dan lain-lain. Namun, memang kalau belum pernah mengalaminya, rasanya masih belum terbayang sih proses menyusui itu. Sebenarnya awal mula saya aktif mencari info ASI, ketika saya masih hamil muda ada teman kantor saya yang menceritakan pengalaman menyusuinya, lalu dia mengatakan juga aktif mengikuti info dari organisasi pendukung ASI seperti Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI). Akhirnya dari beliau saya baru tau ada asosiasi tersebut. Nah dari info itu, saya semakin bertekad lagi mencari info sebanyak-banyaknya tentang menyusui. Contoh lain yang saya lakukan ialah mengaktifkan kembali instagram saya ;p. Nah mengaktifkan instagram ini juga untuk memperoleh informasi seputar mengurus anak, menyusui, kehamilan, produk-produk ibu dan anak dll dengan memfollow organisasi-organisasi, perkumpulan ibu-ibu yang menginspirasi (termasuk artis-artis juga :p), serta ol shop tentunya

Semakin bertambahnya usia kehamilan, saya merasa membaca-baca saja sepertinya kurang. Oleh karena itu saya mencari informasi di internet untuk mengikuti kelas laktasi. Dan pas sekali, Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) mengadakan kelas tersebut. Nah saat mendaftarpun, saya juga pilih jadwal yang kira-kira sesuai dengan jadwal suami saya di Jakrta, karena dia cukup sering ditugaskan keluar kota. Karena dari pengalaman teman-teman dan informasi yang saya peroleh, keberhasilan menyusui ini bukan hanya dari pihak ibu saja melainkan suami juga sangat berperan untuk memberikan dukungan kepada istri. Akhirnya setelah menyesuaikan jadwal, kami memilih tanggal 5 September. Walaupun sebenarnya saya agak khawatir kalau ternyata hanya dia sendiri bapak-bapak yang hadir, tapi untungnya ada sih walaupun hanya 3 orang bapak2nya J. Dan memang, saya sangat menganjurkan buat para istri mengajak suaminya mengikuti kelas laktasi, karena bagaimanapun para suami harus tahu apa yang harus mereka lakukan dari proses melahirkan istrinya, IMD, menyusui, dan hal-hal lain seputar menyusuidan mengurus anak. Ya walaupun terkadang dia sedikit mengantuk mengikuti kelasnya, tetapi setidaknya ada beberapa ilmu tentang menyusui yang dia ketahui dan sayapun mengingatkan dia poin-poin mana yang penting yang harus dia ingat. Salah satunya yaitu : cara meningkatkan hormom oksitosin yang merupakan hormon penting dalam produksi asi. Nah salah satu caranya yaitu dengan membuat sang istri terjauh dari stres dan selalu bahagia!! Kalau kata trainernya sih cara buat para wanita bahagia ya belanja..hehe.. Eh tapi ini jangan buat para istri jadi seenaknya yaaa, kalau sekali-kali boleh deh..hihi..

Oke, sekarang saya mau berbagi ilmu yang saya dapat dari Kelas Edukasi Menyusui I yang diselenggarakan oleh AIMI. Nah materi yang saya dapat dari kelas ini yaitu tatalaksana inisiasi menyusui dini (IMD), manfaat menyusui dan resiko formula, dukungan pemberian ASI, mengenal anatomi payudara, posisi dan pelekatan menyusui, hari-hari pertama kelahiran bayi dan kunci keberhasilan menyusui. Bagus-baguskan materinya!! sebenarnya ada kelas lanjutannya tapi saya belum mulai ikut, masih mengatur jadwal lagi dengan suami. Berikut beberapa materi yang saya dapatkan dari Kelas Edukasi Menyusui 1
1.       IMD dan Rawat Gabung
·         Manfaat dari IMD yaitu  mendapatkan manfaat kontak kulit pertama antara ibu dan bayi, ibu dan bayi dapat segera melakukan bonding atau proses kelekatan, bayi mendapatkan kolostrum, awal pemantapan kegiatan menyusui, bayi 8x lebih berhasil mendapatkan ASIX, bayi lebih lama mendapatkan ASI, dan mengurangi pengeluaran rumah tangga
·         Nah, mengapa kontak kulit ibu penting? Karena dada ibu bersifat thermo-regulator dan dapat menurunkan resiko hypothermia dan kematian akibat kedinginan, bayi lebih tenang, menjaga kestabilan tingkat gula, bayi memperoleh kolostrum, sentuhan bayi merangsang hormon oksitosin
·         Melaksanakan IMD juga ada syaratnya yaitu ibu dan bayi dalam keadaan stabil, didampingi oleh suami atau anggota keluarga lainnya, dan dilakukan minimal 60 menit jadi terkadang ada suster yang tidak mengharuskan sampai 1 jam, baru 15 menit sudah diambil suster. Jangan mau ya mom,,karena ini hak kalian!!
·         Manfaat rawat gabung : mengenali tanda haus/lapar sebelum menangis, kegiatan menyusui lebih lancar (oksiosin), bayi tidak turun imunitas tubuhnya, kontak kulit bisa dilakukan dll.
Begitu besarnya manfaat IMD (min 60 menit) dan rawat gabung untuk kelancaran ASI dikemudian hari, makanya pastikan rumah sakitnya menyediakan kedua hal tersebut J. WHO pun membuat standar emas pemberian makan pada bayi yang terdiri dari IMD, ASIX selama 6 bulan pertama, setelah 6 bulan diberikan MPASI berkualitas, dan ASI dapat diteruskan sampai 2 tahun atau lebih
2.       Manfaat ASI
·         Komposisi ASI dirancang sesuai dan seimbang seiring perkembangan bayi sehingga otomatis sesuai dengan yang dibutuhkan bayi, berbeda dengan sufor yang komposisinya tetap. Setiap ibupun memiliki komposisi yang berbeda-beda bahkan perubahannya bisa terjadi setiap detik!! Kandungannya yang terdiri dari karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral air, garam, dan gula dalam takaran yang tepat!
·       ASI mengandung sel-sel hidup, DNA ibu, hormon, enzim-enzim aktif, berbagai macam immunoglobulin, faktor-faktor pertumbuhan serta zat-zat lainnya yang memiliki komponen struktur yang unik sehingga mustahil ditiru oleh susu formula
·         ASI disebut cairan hidup karena setiap tetes ASI mengandung ±1 juta sel darah putih yang membasmi kuman dan melindungi dari berbagai penyakit infeksi (dimana dalam sufor tidak mengandung sel darah putih)
·     ASI meningkatkan perkembangan emosi, kepribadian dan PD (EQ). Hal ini dipengaruhi oleh kontak kkulit ibu yang meningkatkan ikatan batin anak-ibu, kasih sayang yang dirasakan dari ibu saa menyusui jadi dasar perkembangan yang hangat pada anak, dan tingkatan kelekatan (bonding) yang tinggi mendorong timbulnya rasa percaya pada orang lain
·         ASI juga bermanfaat untuk ibu lhoo,, diantaranya mencegah pendarahan pasca persalinan dan resiko anemia, membantu rahim untuk cepat kembali ke ukuran sebelum hamil karena kadar oksitosin meningkat, mengurangi resiko berbagai penyakit seperti rematik, osteoporosis, diabetes melitus tipe 2, kanker, selain itu dengan menyusui dapat meningkatkan sifat “keibuan” pada diri wanita J
·    Kalau untuk Ayah sih, manfaat ASI yang jelas lebih ekonomis karena tidak perlu mengeluarkan biaya sufor :p
Pada seminar ini juga dijelaskan bahaya sufor, namun saya tidak jelaskan disini karena memang ada beberapa kasus pada ibu yang tidak memiliki pilihan lain untuk memberikan sufor pada anaknya J. Saya yakin setiap ibu pasti sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk buah hatinya.
3.       Payudara, Posisi dan Pelekatan Menyusui
·   Para ibu perlu memperhatikan anatomi payudaranya ketika memutuskan untuk menggunakan posisi menyusui tertentu karena penyebaran “pabrik” ASI tidak merata serta jumlah saluran ASI bervariasi
·         Buat ibu yang memiliki puting datar dan terbenam tidak perlu berkecil hati dan ketika hamil tidak perlu menarik-narik puting atau menggunakan tempurung puting (breast shells) karena bisa memicu kontraksi. Mungkin diawal menyusui akan menemukan tantangan tetapi posisi dan pelekatan yang benar akan sangat membantu (bayi menyusui dari payudara bukan dari puting).
·         Produksi ASI dalam kuantitas kecil yang disebut kolostrum terjadi pada kehamilan trimestes kedua. Beberapa kasus, ada ibu yang sudah mengeluarkan ASI pada saat hamil, namun hal ini jangan buat ibu yang belum mengeluarkan ASI berkecil hati. Target kitakan menyusui saat anak melahirkan dan terus berproduksi hingga dia 2 tahun atau lebih bukan saat hamil. Nah saat hamil tidak keluar karena tertahan oleh hormon progesteron, lalu mulai keluar ASI nya seiring plasenta dikeluarkan dan hormon progesteron terhenti. ASI juga tidak langsung keluar banyak, Ibu mulai meningkatkan produksi ASI 48-72 jam pasca persalinan
·         ASI akan terus dihasilkan apabila payudara tetap dirangsang oleh isapan bayi dan/atau memerah. ASI tidak akan “habis” dengan sendirinya kecuali frekuensi menyusuinya berkurang
·         Hormon yang memproduksi ASI yaitu prolaktin dan oksitosin. Meningkatkan hormon prolaktin dapat dilakukan dengan meningkatkan frekuensi menyusui ataupun memerah ASI, menyusui di malam hari dan pagi hari karena produksi prolaktin lebih banyak diwaktu tersebut. Nah kalau oksitosin dapat ditingkatkan dengan cara yang saya kemukakan diawal yaitu BAHAGIA, positive thinking dan tidak stress.
·         Pada prinsipnya posisi menyusui tidak ada yang salah dan benar, mommy bisa menemukan sendiri secara alamiah yang paling nyaman untuk ibu dan bay. Teori memang dapat membantu menemukan posisi yang paling pas, namun tetaplah percaya pada NALURI mommy untuk menyusu dan juga bayi yang menyusu J. Posisinya dapat berupa posisi mendekap, dekapan menyilang, dibawah lengan, tiduran menyamping, selonjoran/rebahan, terlentang, memangku, menggendong dsb
·         Kalau pelekatannya, perlu diperhatikan karena pelekatan yang benar bisa mengurangi resiko lecet pada payudara dan lebih mengefektifkan proses menyusui. Langkah pertama pelekatan adalah dengan membuat bayi membuka mulutnya secara LEBAR! Arahkan puting ke hidung bayi dan posisi kepala bayi dibawah payudara ibu. Sentuh bibir atas dengan puting dan doronglah bayi untuk membuka mulutnya dengan lebar, seolah-olah sedang menguap. Ketika bayi sudah membuka mulutnya secara lebar, dekaplah bayi secara cepat ke arah payudara dengan cara menggerakan badan (bukan kepala bayi) ke arah ibu dengan lengan yang sedang menopang. Pastikan bahwa bayi yang digerakan ke arah payudara ibu dan bukan sebaliknya. 
Mengenai gambaran posisi dan pelekatan bayi, mommy bisa lihat contohnya di youtube! Sudah cukup banyak kok contohnya J
·         Tanda-tanda bayi cukup ASI diantaranya posisi dan pelekatan sudah benar, terlihat dan/atau terdengar menelan ASI, BAK min 5-6 x dalam sehari (sejak usia 7 hari), BAB min. 2x dalam sehari untuk bayi baru lahir <28 hari (setelah sebulan bisa jadi bayi tidak BAB setiap hari, dan itu normal kok), bayi melepas sendiri payudara ibunya keika selesai menyusui, tidur nyenyak dan tampak puas selesai menyusui, mencapai BB lahir kembali setelah 14 hari, kenaikan sekitar minimal 500 gr untuk 3 bulan pertama, dan jika bayi dalam masa percepatan pertumbuhan, produksi ASI akan mengikuti kebutuhan bayi.
·         Menyusui sesuai keinginan bayi maka ibu akan lebih responsif dan kelekatan lebih erat sehingga naluri keibuan semakin terasah. Maka saya sendiri mulai meyakinkan diri untuk percaya dengan naluri karena ibu yang paling mengenal bayinya! Dan ini terbukti oleh sahabat saya sendiri. “Naluri dapat mengalahkan teori dan logika”
·         Apabila puting mengalami lecet ataupun luka-luka, langkah yang dapat dilakukan yaitu perbaiki pelekatan dan posisi menyusui bayi serta teruskan menyusui, sering menyusui dan memerah (dengan tangan) untuk mengurangi pembengkakan, menyusui dimulai dari puting yang tidak (terlalu) sakit dan mungkin perlu ‘mengistirahatkan’ salah satu puting, berbagai salep bisa digunakan sesuai petunjuk doter, oleskan ASI akhir (hindmilk) pada aerola tiap selesai meyusui, dsb
·         Kondisi payudara bengkak bisa terjadi karena ibu kelebihan produksi ASI, mulai menyusui tertunda/ tidak IMD, pelekatan kurang efektif, frekuensi menyusui kurang dan lamanya menysusui dibatasi
·         Pertolongan pertama pada payudara bengkak diantaranya : kompres payudra dengan air hangat atau mandi dengan air hangat, lakukan pijat reverse pressure softening (pijat ke arah dada) sampai bagian areola dan puting melunak dan lentur, dan segera perah ASI dengan tangan sampai bengkak berkurang.
Sebaiknya, ketika mengalami payudara bengkak mommy juga dapat  segera hubungi tenaga kesehatan yang memahami manajemen laktasi di klinik laktasi

Sebenarnya masih banyak yang saya dapatkan di seminar tersebut namun yang saya sampaikan disini sudah cukup untuk meringkasnya. Saya disini bukan untuk menggurui, karena saya sendiri juga masih BELAJAR dan saat ini belum merasakan menyusui. Disini saya hanya ingin berbagi teori yang saya dapatkan dari kelas laktasi yang saya ikuti yang semoga bermanfaat buat para ibu hamil terutama yang pertama kali hamil seperti saya. Jika sudah tumbuh NIAT dan TEKAD yang kuat untuk menyusui maka ada baiknya kita memperoleh EDUKASI mengenai laktasi yang bisa diperoleh dari berbagai sumber terpercaya serta terus mendapat DUKUNGAN dari suami dan orang-orang terdekat kita sehingga insyaAllah kita semakin PERCAYA DIRI ketika memulai menyusui. Hal yang penting lagi ialah sebuah teori memang penting dalam proses menyusui nanti, namun berdasarkan pengalaman teman-teman saya dan informasi yang saya peroleh Naluri ibulah yang lebih utama karena seorang ibu yang paling mengerti anaknya. 

-Resti, usia kandungan 27 minggu-

Selasa, 08 September 2015

Perjuangan ASI Eksklusif untuk Hawa : Ketika Naluri Seorang Bunda Mengalahkan Teori dan Logika

Syukur Alhamdulillah, hari ini tepat 3 bulan usia buah hati saya Hawacita Damara Matondang. Bahagia sudah pasti saya rasakan, terutama saat teringat saya sudah menempuh separuh perjalanan dalam memberikan ASI eksklusif... yeeaayy!! hihi... mungkin utk sebagian ibu2 akan berpikir "hmm...baru 3 bulan aja kok seneng bgt?", yup memang saya bahagia!! Dan rasanya tepat sekali jika di usia Hawa yg ke 3 bulan ini saya bercerita mengenai perjalanan saya dalam menyusui Hawa...

Bagi saya pribadi, menyusui bukanlah sesuatu hal yg sulit ketika kita berpikir itu sulit, namun juga bukan hal yg mudah ketika kita menganggap itu mudah. Menyusui merupakan sesuatu yg mmm... "unpredictable" yup ga pernah kita duga, pokoknya seruuu!!!

Semua diawali dengan kekawatiran sebelum saya melahirkan. Hampir sama dengan calon ibu lainnya, saya dihantui pikiran2 apakah ASI saya akan keluar? Apakah anak saya nanti akan cukup mendapat ASI dari saya?, dsb... ditambah lagi cerita teman2 saya yg sudah keluar ASI nya saat masih hamil!! Huhu.. panik, bingung, sambil terus berusaha optimis, campur aduk ada di pikiran saya saat itu. Berteman dengan Mbah Google hampir setiap hari, demi mencari info2 terlengkap seputar ASI dan menyusui, hingga ga lupa saya mengambil perawatan khusus payudara di salon langganan saya. Wuaahh pokoknya semua deh saya lakukan...
Hingga akhirnya hari kelahiran Hawa tiba. Saya dan suami sudah berkali2 memastikan bahwa RS tempat saya melahirkan memang pro IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Dan alhamdulillah memang IMD itu berhasil kami lakukan. Lebih dari 1 jam Hawa berada di atas badan saya sambil saya peluk utk pertama kalinya, mendengarkan Adzan & Qomat yg dilantunkan Ayah, dan berusaha utk meminum ASI. Tidak mudah memang proses menyusui yg pertama saat itu. Bunda & Hawa sama2 masih meraba dan belajar. Tapi kami tidak akan menyerah, janji saya di dalam hati...

Hari2 berikutnya saat masih di dalam RS bukan semakin mudah, justru lebih menantang. Banyaknya tamu yg datang silih berganti, membuat saya kurang istirahat, telat makan, dan ternyata berakibat pada kuantitas ASI saya yg memang belum banyak, menjadi semakin sedikit. Hawa jadi sering menangis meskipun sudah lama saya susui. Oiyah!! Ditambah lagi intervensi orang2 di sekitar saat proses "belajar menyusui" saya dan hawa. "Bukan begitu caranya", "Hawa ga nyaman itu", "Duduknya yg bener", dsb... aaaaahhh....jujur saya semakin bingung!!!! Sempat akhirnya pada malam kedua di RS saya & Hawa  "kabur" ke ruang bayi dan meminta pertolongan suster yg jaga disana utk membantu proses menyusui kami. Mendengar Hawa yg terus menangis, saya sampai meneteskan air mata. Lelah, bingung dan panik menjadi penyebabnya. Saat itu juga saya diberitahu oleh suster, semakin saya stress semakin ASI sulit utk keluar. Saya pun dianjurkan utk beristirahat malam itu dan makan semua makanan kesukaan saya. Akhirnya keesokan harinya saya & Hawa lebih tenang dan proses menyusui berangsur membaik.
Kemudian perjalanan menyusui selanjutnya saya lewati di rumah, dengan dukungan suami dan keluarga. Segala hal yg berkaitan dengan proses menyusui sudah saya siapkan. Mulai dari breast pump, sterilizer, botol kaca penyimpan ASI, bantal penopang utk menyusui, dll. Awalnya saya menggunakan itu semua sesuai petunjuk dari kelas laktasi, dan info2 yg saya dapatkan sekali lagi dari Mbah Google. Hingga lama kelamaan saya bisa memilah2 mana yg betul2 saya dan hawa perlukan, mana yg tidak.

Hari demi hari saya lalui dengan semangat memberikan ASI untuk Hawa.. dan sekali lagi, proses ini sungguh "unpredictable". Hihi... Dimulai pada suatu malam ketika saya merasa tidak enak badan. Saat itu Hawa sudah bobo dan suami saya sedang keluar utk solat tarawih. Saya yg berusaha terus di dlm selimut lama kelamaan merasakan seluruh badan menggigil kedinginan sampai ga bisa berbuat apa2. Meriang ya istilahnya... Ketika diukur suhu badan saya pun cukup tinggi hampir 39°c.. Saya akhirnya bercerita dgn sahabat2 saya (para founder @cerita.ibu) via whatsapp group, dan mereka memberi tahu kalo demam yg saya alami itu disebabkan penumpukan ASI di payudara saya, yg menyebabkan payudara saya jadi bengkak, dan badan saya pun demam. Mereka kemudian menyarankan saya untuk segera melakukan pijat payudara (bisa dilakukan sendiri atau di klinik laktasi RS), guna mengeluarkan tumpukan ASI dari payudara saya. Keesokan harinya dengan menahan rasa sakit, akhirnya saya berusaha memijat payudara, dan berangsur2 keadaan membaik.

Kemudian 1-2 minggu setelah kejadian pertama, saya kembali merasakan sakit dan bengkak pada payudara sebelah kiri saya. Dan kali ini jika diperhatikan, ternyata terdapat sumbatan berwarna putih pada putingnya. Kemudian kembali setelah bercerita dengan sahabat2 saya, saya dianjurkan utk lebih rajin membersihkan puting, rutin memijat payudara, kompres payudara dengan air panas, dan lebih sering menyusui Hawa dengan menggunakan payudara yg sakit. "Karena cara yg paling ampung mengangkat sumbatan adalah melalui hisapan bayi secara langsung", cerita Vanessa, salah satu founder @cerita.ibu.. Kurang lebih 3 hari kemudian sumbatan pada puting saya hilang dengan sendirinya.. Horeee!!

Namun ke"seru"an belum berakhir sampe disitu aja... Tantangan berikutnya adalah puncaknya. Beberapa minggu kemudian ketika saya baru selesai menyusui, saya merasakan sakit yg luaaaaarr biasaaaa pada payudara (lagi-lagi) yang sebelah kiri. Namun kali ini rasanya lain dari yg lain... Payudara saya seperti ditusuk seribu jarum, namun saya jg tidak yakin berasal dari mana sumbernya... Ketika sakit itu datang, bisa bertahan 1 sampai 1,5 jam lamanya. Saya pun sampai menangis karna tidak kuat menahan rasa sakitnya. Setelah kejadian berulang beberapa kali dalam beberapa hari, akhirnya saya memutuskan utk memeriksa ke klinik laktasi di RS tempat saya melahirkan Hawa. Sesampainya di klinik laktasi tsb, saya dan hawa dilihat proses menyusuinya. Menurut bidan tersebut cara menyusui kami baik2 saja (sudah benar prosesnya). Setelah itu sang bidan memeriksa payudara saya, dengan cara menekan2 menggunakan jari2nya. Dan yg membuat saya shock, saat dia berkata "Wah Bu, ini ada benjolan berjalan di payudara ibu. Ibu ada riwayat keluarga yg memiliki tumor atau kanker??". Lemas langsung tubuh saya. Dan saya pun menjawab "Ya, mama saya dua kali di operasi tumor payudara di tempat yg sama"...

Dengan lunglai dan meneteskan air mata saya keluar meninggalkan klinik laktasi tersebut. Lalu saya memutuskan utk konsultasi terlebih dahulu dengan dokter kandungan saya. Ketika akhirnya diperiksa, Dokter itu menenangkan saya dan memberitahu bawah kemungkinan hanya ada sedikit radang di payudara saya. Dan oleh dokter saya dibekali resep antibiotik dan obat penahan rasa sakit. Saya yg memiliki keinginan kuat utk menghindari segala jenis obat2an selama menyusui pun, akhirnya luluh mengkonsumsi obat2 tersebut, demi menghilangkan rasa sakit dan berharap utk proses menyusui yg lebih baik. Sesampainya di rumah saya bercerita lagi dengan sahabat2 saya. Mereka menyarankan utk mencari second opinion mengenai kondisi saya ini. Saya awalnya menolak, dengan berharap obat2 yg saya konsumsi akan menjadi solusi.

Namun keadaan berubah saat beberapa hari kemudian saya kembali merasakan sakit teramat sangat, bahkan setelah meminum obat penahan rasa sakit. Akhirnya dengan tergesa2 saya kmebali menelusuri Mbah Google, mencari informasi, nomer telp, dan memutuskan utk mengunjungi sebuah klinik laktasi di salah satu RSIA ternama di Jakarta. Saya, Hawa dan suami yg saat itu baru pulang dari kantor, langsung janjian bertemu di RS tsb. Kami dapat antrian nomer terakhir dan kami masuk sekitar kurang lebih jam 8 malam. Kami bertemu dokter yg sangat ramah. Beliau mendengarkan cerita saya, mengecek payudara saya dan meminta saya utk menyusui agar dia bisa melihat apa ada yg salah. Baru sebentar Hawa menyusu langsung dia meminta izin utk memeriksa mulut Hawa. Hawa diletakkan di kasur, dibuka mulutnya sembari diperiksa, dan kemudian dokter itu berkata "wah anak ibu ada tongue tie & lip tie nya nih..."

Jujur sebelumnya saya mmg sudah pernah membaca dan mendengar mengenai tongue tie, tapi tidak tau detail apa, bagaimana dan dampaknya. Namun saya yakin saat itu suami saya tidak tau sama sekali. Akhirnya sang dokter pun menjelaskan panjang lebar, apakah itu tongue tie dan lip tie. Yup utk kalian yg belum tau, singkatnya tongue tie itu adanya selaput di bawah lidah yg menyebabkan lidah tidak bisa bergerak maksimal saat proses menyusui. Kalo lip tie selaput yg berada di antara bibir (atas atau bawah) dan gusi, yg menyebabkan bibir tidak bisa "dower" saat menyusui dan membuat si bayi lebih "menggigit" bukan "menghisap". Saat itu juga sang dokter menganjurkan utk melakukan tindakan yg disebut dengan insisi (pemotongan tongue tie dan lip tie sebesar 1mm). Lalu jika tidak dilakukan tindakan, nantinya jangka panjang anak akan semakin sulit menyusui, berat badan turun, dan bahkan bisa cadel, dsb.. dsb.. Singkat cerita dengan adanya penjelasan yg menurut kami masuk akal pada malam itu, akhirnya kami setuju saat itu juga utk dilakukan insisi terhadap hawa. Saya dan suami hanya berpikir, semoga proses menyusui akan lebih baik ke depannya.

Insisi pun dilakukan pada tongue tie dan upper lip tie Hawa pada malam itu. Jerit tangisan Hawa terdengar sungguh hancur hati saya. Kemudian darah pun jg mengalir di dalam mulut Hawa. Segera setelah dilakukan tindakan, Hawa diberikan ke dalam gendongan saya utk saya beri ASI. Dan memang seketika saat ASI sudah menyentuh bagian yg terluka, darah pun berhenti. Namun tangisan Hawa masih terus hingga dia kelelahan dan terlelap dalam pelukan saya. Saya dan suami sedikit lega, karna kami yakin semua akan lebih baik setelah ini. Sebelum pulang kami pun diajari proses memijat mulut hawa yg harus saya lakukan 5 kali dalam sehari, dan selama 3 minggu. Akhirnya setelah kami paham, kami pun pamit dan membuat janji utk kontrol 3 hari kedepan.
Jelang hari kontrol ke klinik tersebut tiba2 kembali saya merasakan sakit yg sama... yup, sama seperti sebelum dilakukan tindakan terhadap hawa. Saya pun datang ke klinik tersebut dengan hati sedikit "protes", kok Hawa udah di gunting2 bagian dalam mulutnya, namun saya masih jg sakit?? Ketika datang dan diperiksa kembali oleh dokter yg sama, dojter tsb bilang "Yah Bu, ini luka bekas insisi nya menutup sedikit, pasti ibu memijatnya tidak betul deh". Saya yg sempet agak kesal, mengakui bahwa saya ragu ketika memijat terlebih di bagian yg bekas luka. Ga tega!! Akhirnya kembali atas saran dokter itu, bekas luka tounge tie nya yg sudah menempel sedikit itu di dorong menggunakan jari nya, hingga terbuka lagi, yg berarti terluka lagi, berdarah lagi, dan hawa menangis histeris lagi.... Kemudian saya pun pulang ke rumah dengan niat penuh utk lebih "tega" memijat mulut hawa demi hasil insisi yg maksimal.

2 hari kemudian saya kontrol lagi, daaaaaannn katanya mulai menutup lagi luka nya Hawa yg di bawah lidah!!!!!!! Saya yg saat itu ke RS hanya ditemani bibi (ART) langsung lemas dan menelpon suami sambil menangis. Dokter kembali menyarankan untuk mendorong bekas insisi dengan jarinya agar lukanya terbuka lagi... jujur saya sudah setengah hati saat itu. Sambil sedikit emosi saya bilang "saya sudah benar proses memijat di rumah, kenapa begini lagi???" Dokter pun mulai mencari analisa lain, dan bilang "mungkin memang tipe anaknya kalo luka begini Bu". Entahlah apa yg dia bilang, tapi saya sudah ga fokus. Saat itu suami saya jg terdengar setengah emosi dan bingung di telp, namun dia bilang "yasudahlah mau diapain lagi, kita ikuti aja saran dokternya". Dan akhirnya untuk kedua kalinya dengan menggunakan jari telunjuknya, dia mendorong tongue tie hawa dan kembali lagi kejadian yg sama berulang..... tangisan hawa yg jujur sampe sekarang ga akan pernah bisa saya lupakan.

Akhirnya saya pulang ke rumah dengan hati yg tidak tenang... sambil terus berdoa, agar ini semua bisa kami lewati dengan mudah. Hingga akhirnya beberapa hari kemudian, kembali saya merasakan sakit pasca menyusui hawa. Sedih, kesal, marah, campur aduk pokoknya. Saya marah bukan karna saya kesakitan, tapi karna anak saya sudah begitu tersiksanya melalui proses tsb, untuk hasil yg bisa dibilang hampir tidak ada!!!! Hari itu kebetulan jadwal kami utk kembali kontrol. Namun saya benar2 sudah setengah hati. Sebelum berangkat saya yg sebelumnya sudah bercerita ke sahabat2 saya dan mendapat support yg kuat dari mereka, akhirnya saya mengirim whatsapp ke suami saya yg berisi "Ayah, bunda menyerah dengan proses pengobatan ini. Bunda udah ga kuat lagi liat Hawa di apa2in". Ahamdulillah suami saya mendukung, dan dia hanya bilang "Oke, kalo gitu siang ini Hawa ga boleh di apa2in lagi ya, hanya diperiksa aja".

Ketika akhirnya saya kembali ke klinik laktasi tersebut kali ini dokter yg biasa menangani saya dan Hawa sudah didampingi 2 dokter lainnya (yg terlihat lebih senior). Mereka kembali memeriksa mulut Hawa, dan betul dugaan saya dan suami, mereka mau melakukan tindakan lagi utk Hawa!! Dan kali ini bukan sekedar mendorong bekas luka yg tertutup, namun melakukan operasi (insisi) ulang pada tongue tie dan lip tie hawa... Yup!!!! Re-insisi istilahnya.... dan yg lebih serunya lagi salah satu diantara mereka bilang kalo ternyata lip tie bagian bawahnya jg harus di insisi. Jadi re-insisi utk tongue tie dan upper lip tie, dan insisi utk lower lip tie!! Hmmm.... saya yg sudah memantapkan hati utk tidak menuruti, mencoba berargumen dan bertanya sebanyak mungkin. Namun mereka bertiga tetap menganjurkan (well, sedikit memaksa tepatnya), untuk melakukan prosedur itu. Ketika mereka melihat saya kurang setuju, akhirnya mereka memutuskan untuk memberi rujukan ke dokter kepala di klinik laktasi itu utk melakukan tindakan utk Hawa. Ya, akhirnya saya pun pulang dengan membawa surat rujukan yg hingga saat ini belum dan mungkin tidak akan pernah saya gunakan.

Malam itu saya dan suami berbicara dan meminta maaf kepada hawa.. Ya, meskipun Hawa belum mengerti apa yg kami ucapkan, namun kami yakin Hawa memahami isi hati kami. Sambil saya dan suami kemudian berdiskusi utk mencoba beberapa cara sendiri utk menghindari kemungkinan timbulnya sakit pasca menyusui. Alhamdulillah saya menemukan sedikit solusi, yaitu sebisa mungkin menyusui sambil tiduran (rebahan) selama di rumah. Karna ketika menyusui sambil rebahan, hawa menghisap tidak sekeras saat saya duduk (dia berada di pelukan saya), namun ASI tetap mengalir mencukupi kebutuhan Hawa. Dan kalaupun keadaan memaksa saya menyusui dengan posisi duduk (misal di mobil), saya usahakan Hawa utk "copot-pasang" saat menyusui, atau menggunakan payudara yg kanan saja, dan yg kiri dipompa. *Saya jg sudah coba pompa khusus yg payudara kiri, namun belum berhasil memberi ASIP ke Hawa baik menggunakan Dot maupun Cupfeeder. Hawa nangis2 ga mau.. hihi... maunya langsung ajaaahh...

Ya, kembali lagi sebenernya banyak cara yg bisa saya lakukan secara manual, karna hanya saya dan hawa yg tau bagaimana proses menyusui kami. Mungkin memang proses kami tidak tepat seperti yg diajarkan di klinik laktasi atau terpampang di buku2. Tapi inilah kami, Bunda & Hawa... apa yg kami lakukan, hanya kami yg bisa mengendalikan, dan insyaAllah kami bisa melakukan yg terbaik utk kami berdua.
Saya dan suami adalah tipe orang2 yg percaya dengan dokter dan penjelasan logis. Namun, kejadian tersebut menggoreskan sedikit luka di hati kami. Kami percaya tindakan yg dilakukan dokter2 di klinik laktasi tersebut tidak salah, dan bisa berhasil pada banyak bayi2 lainnya. Namun harus diakui bahwa tindakan tersebut tidak tepat untuk Hawa. Daripada memaksakan lebih baik mencari cara lain kan...
Seperti yg sahabat2 saya pernah katakan : "Proses menyusui adalah proses dimana bayi dan ibu sama2 bahagia. Jadi jangan pernah kawatir dengan apa yg orang bilang. Kita semua memiliki cara kita masing2. Terlepas dari benar atau salah cara kita, namun yg pasti itu cara yg tepat!!"
Waaaahh... bener2 perjalanan 3 bulan menyusui yg seru kaaaannn... hihi... long way to go!! Hihihi... doakan kami ya semoga lulus ASI eksklusif 6 bulan dan Hawa bisa mimi ASI terus hingga 2 tahun... amiiiiinnn.... 

❤❤❤❤❤
With Love,
Bunda & Hawa (3mos)